
OpenAI, start-up yang berbasis di San Francisco, mencatat pendapatan tahunan lebih dari $2 miliar berkat produk andalannya, ChatGPT, yang membuatnya menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah. Artikel ini bersumber dari Financial Times pada 9 Februari 2024.
ChatGPT adalah alat AI generatif yang dapat menghasilkan kode, teks, gambar, video, dan menganalisis informasi dari permintaan pengguna. Produk ini diluncurkan pada November 2022 dan sejak itu telah menarik minat dari jutaan pengguna dan ribuan pelanggan bisnis, yang ingin menggunakan teknologi OpenAI untuk mengadopsi alat-alat AI generatif di tempat kerja.
Pendapatan tahunan OpenAI adalah ukuran dari pendapatan bulan sebelumnya dikalikan dengan 12. Angka ini mencapai tonggak sejarah $2 miliar pada Desember 2023, menurut dua orang yang mengetahui keuangan perusahaan. Perusahaan yang didukung oleh Microsoft ini percaya bahwa pendapatannya bisa lebih dari dua kali lipat pada tahun 2025, seiring dengan meningkatnya permintaan akan produk-produk OpenAI, termasuk model AI yang mendasari ChatGPT, yaitu GPT-4.
Namun, pendapatan yang tinggi tidak berarti laba yang tinggi. OpenAI masih merugi karena biaya besar untuk membangun dan menjalankan model-modelnya, yang membutuhkan sumber daya komputasi yang luar biasa. “Biaya pelatihan sangat besar, tetapi itu adalah hal yang disengaja,” kata Sam Altman, CEO OpenAI, kepada Financial Times pada November lalu. “Kami ingin membangun AI yang dapat memecahkan masalah dunia nyata, bukan hanya menghasilkan uang.”
Grafik berikut menunjukkan pertumbuhan pendapatan tahunan OpenAI sejak tahun 2020, berdasarkan data dari The Information:
Table
| Tahun | Pendapatan tahunan (dalam miliar USD) |
|---|---|
| 2020 | 0,1 |
| 2021 | 0,5 |
| 2022 | 1,3 |
| 2023 | 2,1 |
OpenAI tidak sendirian dalam mengembangkan dan mengkomersialkan produk-produk AI generatif. Perusahaan-perusahaan teknologi besar, seperti Google dan Meta, serta start-up-start-up baru, seperti Anthropic, Mistral, dan Cohere, juga mulai menawarkan produk-produk serupa. Pada Kamis, Google mengumumkan sistem AI baru mereka, Gemini, yang dapat diakses oleh pengguna melalui langganan premium sebesar $20 per bulan. “Gemini adalah sistem AI generatif paling canggih yang pernah kami buat, yang dapat membantu pengguna dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, hiburan, hingga bisnis,” kata Sundar Pichai, CEO Google, dalam siaran pers.
Namun, OpenAI memiliki keunggulan kompetitif berkat aliansinya dengan Microsoft, yang telah berkomitmen untuk menginvestasikan hingga $13 miliar ke OpenAI, sebagai bagian dari kesepakatan bagi hasil yang ditandatangani pada tahun 2019. Aliansi ini telah membuat kedua perusahaan berada di garis depan gairah AI, dengan mengintegrasikan produk-produk OpenAI ke dalam platform dan layanan Microsoft, seperti Azure, GitHub, dan Microsoft 365. Salah satu produk bersama yang paling populer adalah AI Copilot, yang merupakan asisten AI untuk pengguna perusahaan dari Microsoft 365, yang telah diluncurkan secara bertahap selama tiga bulan terakhir. AI Copilot dapat membantu pengguna dalam membuat dokumen, spreadsheet, presentasi, dan kode, dengan menggunakan teknologi OpenAI.
OpenAI, yang didirikan sebagai laboratorium penelitian AI nirlaba pada tahun 2015, menjadi raksasa komersial sejak membuat lengan bisnis pada tahun 2020. Meskipun mengalami kericuhan pada bulan November, ketika CEO Sam Altman dipecat oleh dewan OpenAI hanya untuk dikembalikan beberapa hari kemudian, kelompok ini terus memanfaatkan booming AI yang dimulai dengan peluncuran ChatGPT pada November 2022. Pada bulan-bulan terakhir, karyawan OpenAI berpartisipasi dalam penjualan saham yang memberi OpenAI valuasi $86 miliar, kira-kira tiga kali lipat dari nilai sebelumnya pada April lalu. [FT]





